Liputan
Hari Pertama MASTA UMKT 2026: Catatan dari Sesi Pembekalan Daring
Catatan lapangan sesi pembekalan MASTA MABA UMKT 2026 pada 6 Agustus: suasana Zoom dengan ratusan peserta, isi materinya, dan hal-hal yang tidak tertulis di panduan.

Hari pertama selalu punya tekstur yang sama: bangun terlalu pagi, membuka tautan terlalu cepat, lalu menunggu sesuatu yang belum dimulai.
MASTA 2026 dibuka pada 6 Agustus lewat sesi pembekalan daring, seluruhnya di Zoom, diikuti serentak oleh mahasiswa baru dari semua fakultas.
Sebelum sesi dimulai#
Saya masuk ke ruang tunggu lima belas menit lebih awal, bukan karena rajin, tapi karena membaca di panduan bahwa presensi bisa diambil kapan saja. Sudah ada sekitar empat ratus orang di sana, sebagian dengan kamera menyala, sebagian besar tidak.
Kuncinya cuma satu, dan ini yang paling sering diremehkan: pastikan sudah masuk ruang setidaknya 15 menit sebelum acara dimulai. Bukan supaya terlihat rajin, tapi supaya tidak tertahan di ruang tunggu atau terganjal kapasitas ruang yang penuh menjelang jam mulai.
Yang tidak tertulis di panduan mana pun#
Satu detail yang paling terasa selama sesi justru bukan materinya, melainkan riuhnya kolom chat dan mikrofon yang sesekali bocor.
Di tengah ratusan peserta, masih ada yang lupa bahwa ini kegiatan resmi kampus, mulai dari kata-kata kasar yang diketik di kolom komentar, sampai peserta yang santai merokok di depan kamera tanpa mematikan mikrofon.
Yang sering dilupakan: meski lewat layar, kehadiran dan perilaku peserta tetap terpantau panitia. Nama yang muncul di daftar peserta adalah namamu, dan sesi ini bagian dari penilaian kehadiran, bukan ruang obrolan bebas.
Isi pembekalannya#
Setelah pengenalan rangkaian MASTA, materi utamanya satu: panduan pemetaan karier mahasiswa.
Awalnya saya kira ini akan jadi bagian yang paling mudah dilewatkan, sesi motivasi yang biasanya terdengar sama di mana-mana. Ternyata tidak.
Yang paling menempel bukan bagian soal karier, melainkan bagian pembukanya: perbedaan cara belajar SMA dan kuliah. Di sekolah, sebagian besar proses belajar bergantung pada arahan guru, ada yang mengingatkan, ada yang mengawasi. Di kampus, tatap muka kelas hanya menyumbang sebagian kecil dari seluruh proses belajar. Sisanya tanggung jawab sendiri.
Kalimat itu terdengar biasa saat disampaikan. Tapi kalau dipikir lagi, itu menjelaskan hampir semua hal yang membuat mahasiswa baru tersandung di semester pertama: bukan karena materinya sulit, melainkan karena tidak ada lagi yang mengingatkan.
Selebihnya membahas cara memetakan karier sejak awal kuliah, mengenali minat dan kekuatan diri, membaca peluang industri, lalu menyusun rencana bertahap sampai lulus. Saya tulis ringkasannya terpisah di Dari Siswa ke Mahasiswa, karena isinya terlalu banyak untuk dijejalkan ke satu catatan harian.
Tiga hal yang saya harap tahu lebih dulu#
- Sesi daring lebih panjang dari yang dibayangkan. Siapkan colokan sejak awal, jangan menunggu baterai di bawah 20 persen.
- Presensi tidak selalu diambil di awal. Keluar sebentar di tengah sesi bisa berarti dianggap tidak hadir.
- Materinya berguna kalau dicatat, bukan didengar sambil lalu. Isinya bukan sambutan seremonial, ada kerangka yang benar-benar bisa dipakai empat tahun ke depan.
Yang saya bawa pulang#
Sesi pertama ini tidak melelahkan secara fisik. Yang melelahkan justru menyadari bahwa yang barusan dijelaskan bukan basa-basi pembukaan, itu gambaran cara kerja empat tahun ke depan, disampaikan di hari pertama saat belum ada yang benar-benar siap mendengarnya.
Sesi berikutnya jauh lebih berat: 12 Agustus, dua belas jam penuh di kampus. Rangkaian lengkapnya beserta tanggalnya saya kumpulkan di jadwal MASTA UMKT 2026.