Lewati ke konten utama
Catatan Ta'aruf

Refleksi

Nilai Ta'aruf: Apa yang Saya Pelajari dari Filosofi MASTA

Kenapa masa orientasi di UMKT disebut Masa Ta'aruf, bukan ospek, dan apa bedanya ketika sebuah kegiatan dibangun di atas gagasan saling mengenal, bukan seleksi.

Oleh Syafaruddin3 menit baca
Ratusan mahasiswa baru duduk lesehan memenuhi selasar gedung fakultas sambil merekam dengan ponsel, spanduk himpunan program studi tergantung di lantai atas

Saya baru memperhatikan namanya setelah semuanya selesai.

Bukan ospek. Bukan orientasi. Masa Ta'aruf, dari kata Arab ta'aruf, yang berarti saling mengenal. Nama yang, kalau dipikir ulang, cukup berani: sebuah kegiatan yang mendefinisikan dirinya bukan dari apa yang dilakukan kepada peserta, melainkan dari apa yang seharusnya terjadi di antara mereka.

Kata yang menentukan bentuk#

Nama sebuah kegiatan bukan label kosong. Ia menentukan apa yang dianggap wajar di dalamnya.

Kalau sebuah masa orientasi disebut "seleksi", maka menekan peserta terasa masuk akal. Kalau disebut "penggemblengan", maka membuat orang kelelahan jadi bagian dari tujuan. Dan kalau disebut ta'aruf, saling mengenal, maka ukuran keberhasilannya berubah total: bukan berapa banyak yang bertahan, tapi berapa banyak yang benar-benar saling kenal di akhir.

Perbedaannya terasa dalam hal-hal kecil. Sesi yang dirancang supaya orang berbicara, bukan supaya orang diam. Panitia yang memperkenalkan diri, bukan yang menyembunyikan nama. Susunan acara yang mengarah ke pengenalan organisasi dan layanan, bukan ke pembuktian ketahanan.

Tiga hal yang sebenarnya dikejar#

Kalau dibaca dari tujuannya, rangkaian ini memang bertumpu pada tiga hal: adaptasi terhadap lingkungan dan sistem pendidikan tinggi, penumbuhan kedisiplinan dan etika, serta pengenalan peluang yang tersedia bagi mahasiswa.

Yang menarik, ketiganya tidak bisa dicapai lewat tekanan. Adaptasi butuh rasa aman. Etika ditiru, bukan dipaksakan. Dan pengenalan peluang hanya berhasil kalau orang cukup santai untuk bertanya.

Jadi metodenya memang harus konsisten dengan namanya, atau tujuannya gagal sendiri.

Kerumunan mahasiswa baru berjas almamater biru berdiri di lapangan kampus, sebagian saling mengobrol, dengan bendera dan spanduk himpunan program studi berkibar di latar belakang
Bagian tersulit dari ta'aruf ternyata bukan mengenal kampus.

Bagian yang paling sulit#

Mengenal kampus itu mudah. Ada peta, ada panduan, ada situs resmi.

Yang sulit adalah mengenal orang. Dan MASTA, sejujurnya, hanya bisa membukakan pintu, sisanya tetap pekerjaan masing-masing.

Saya melihat dua jenis peserta di rangkaian ini. Yang pertama memperlakukannya sebagai kewajiban: hadir, presensi, pulang. Yang kedua memperlakukannya sebagai kesempatan: bertanya nama orang di sebelahnya, mencatat, menyapa lagi keesokan harinya.

Keduanya lulus MASTA dengan status yang sama persis. Tapi hanya satu yang benar-benar mendapatkan apa yang dijanjikan namanya.

Ta'aruf sebagai kebiasaan, bukan acara#

Ini kesimpulan yang saya bawa pulang: ta'aruf terlalu berharga untuk diselesaikan dalam dua minggu.

Kebiasaan yang saya coba pertahankan setelahnya:

  • Menanyakan nama, lalu memakainya. Orang mengingat siapa yang memanggilnya dengan nama.
  • Bertanya lebih dulu sebelum menyimpulkan. Berlaku untuk orang, juga untuk aturan kampus.
  • Menganggap kenalan baru sebagai kenalan, bukan kontak. Beda tipis, tapi menentukan.
  • Hadir secara utuh. Datang badan saja itu presensi; datang dengan perhatian itu ta'aruf.

Tidak ada yang megah dari daftar itu. Tapi kalau kegiatan sebesar MASTA, yang melibatkan ribuan orang setiap tahun, dan dijalankan di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur dengan persiapan berbulan-bulan, hanya berakhir sebagai kenangan dua minggu, rasanya sayang sekali.

Kenapa saya menulis ini#

Ada yang bilang refleksi semacam ini berlebihan untuk sebuah masa orientasi. Mungkin. Tapi saya lebih tertarik pada pertanyaan sebaliknya: kalau sebuah kegiatan dirancang dengan sengaja, kenapa harus dijalani tanpa dipikirkan?

Yang lain sudah saya catat di tempatnya masing-masing, alur dan persiapannya, angka-angkanya, dan apa yang terjadi di lapangan. Halaman ini bagian yang tidak muat di mana pun.

Tulisan di halaman ini karya asli Syafaruddin. Semua foto diambil sendiri di lapangan; yang berupa ilustrasi diberi label tepat di bawah gambarnya. Blog ini catatan pribadi mahasiswa dan bukan kanal resmi universitas: ketentuan yang mengikat selalu yang tertulis di kanal resmi.

Baca juga